Home » » Budidaya Bunga Puring

Budidaya Bunga Puring

Written By Harno Malik on Tuesday, April 23, 2013 | 3:04 PM

Syarat Tumbuh
Suryani (2008) mengemukakan bahwa syarat tumbuh tanaman puring, meliputi cahaya, temperatur, dan kelembaban.
1. Cahaya
Di habitat aslinya, tanaman puring tumbuh di tempat terbuka dengan sinar matahari penuh. Namun demikian, di tempat teduh pun puring dapat tumbuh dengan subur. Sebagaimana tanaman lainnya, puring membutuhkan sinar matahari dalam proses metabolismenya, terutama dalam proses fotosintesis. Tanpa sinar matahari, proses tumbuh dan berkembangnya tanaman akan terhambat. Setiap tanaman membutuhkan cahaya dengan intensitas yang berbeda-beda. Intensitas cahaya adalah banyaknya cahaya yang diterima setiap tanaman setiap harinya. Kebutuhan intensitas cahaya puring berkisar antara 90-100%, dengan lama penyinaran 10-12 jam/hari. Pada umumnya tanaman puring tidak membutuhkan naungan. Jika cahaya terlalu sedikit, warna daun tidak cemerlang, rata-rata warna yang muncul hanya hijau. Beberapa jenis puring berdaun cerah, akan lebih terlihat tajam/jelas warna daunnya apabila terkena sinar matahari sehingga sangat baik dijadikan tanaman outdoor.
2. Temperatur
Tanaman puring dan kerabatnya tumbuh paling ideal pada temperatur sekitar 18 – 20 0C. Namun beberapa jenis tertentu, seperti puring yang berdaun kecil menyukai suhu sekitar 30 0C. Suhu tersebut merupakan suhu rata-rata di Indonesia. Jadi, tanaman puring sangat ideal ditanam di Indonesia ini. Pada suhu rendah, daun akan lebih sempit tetapi tebal, sedangkan pada suhu tinggi, daun akan lebih lebar tetapi tipis.
3. Kelembaban
Tanaman puring menyukai kelembaban sedang. Kelembaban optimal untuk puring berkisar antara 30-60% yang didukung dengan sirkulasi udara yang lancar atau tidak terhambat. Dengan demikian, tanaman ini mampu tumbuh di daerah kering. Kelembaban yang terlalu tinggi akan merangsang munculnya serangan hama dan penyakit, terutama penyakit yang disebabkan oleh bakteri dan cendawan.

Media Tanam
Menurut Silitonga (2007), media yang baik adalah media yang tidak padat dan mengandung banyak oksigen.Media tanam puring, meliputi pupuk kandang, tanah merah, akar pakis halus, akar pakis kasar, pasir malang, sekam bakar, dan pupuk lambat urai (slow release) adalah kombinasi media tanam terbaik dengan pH 5,5-7,5. Pakis, pasir malang, dan sekam bakar digunakan untuk mendapatkan media tanam yang gembur (porous) dengan perbandingan 1:1. setiap komponen. Sedangkan pupuk lambat/slow release diberikan dengan ukuran 1 sendok makan setiap 6 bulan untuk pot yang berdiameter 35 cm.
Stamps, et.al (2002)mengemukakan beberapa alternatif media tanam puring adalah tanah dan daun bambu (1:1), atau sekam yang telah dilapukkan dan tanah (2:1), atau sekam yang telah dilapukkan dan humus daun bambu (2:1), atau sekam bakar, pasir, dan cocopeat (3:1:1). Media juga dapat ditambahkan dengan sedikit pupuk kandang dan pakis halus sebagai bahan campuran media tersebut.

Pemeliharaan Tanaman
Pemeliharaan tanaman, meliputi penyiraman, pemupukan, penggantian pot/reportting, pengendalian hama dan penyakit. Penyiraman dilakukan 1-2 kali sehari pada pagi hari atau sore hari. Pemupukan dapat menggunakan pupuk lambat urai yang diberikan setiap 6 bulan sekali, pupuk NPK dapat diberikan 1 bulan sekali, pupuk daun dapat diberikan dengan cara disemprotkan ke dalam media 2-3 minggu sekali, atau pupuk kandang dapat diberikan 2 bulan sekali. Untuk mendapatkan hasil yang optimal sebaiknya pemupukan dilakukan dengan kombinasi antar pupuk tersebut yang diberikan secara bergantian. Apabila ukuran tanaman tidak lagi proporsional terhadap ukuran pot dan akarnya, maka perlu dilakukan penggantian pot/ reportting yaitu 6 bulan - 1 tahun sekali. Gangguan hama yang sering menyerang, yaitu kutu putih (mealy bugs), kutu sisik, thrips, laba-laba kecil, dan ulat. Sedangkan penyakit pada tanaman puring seringkali disebabkan oleh jamur dan bakteri (Agrobacterium tumefaciens). Pengendalian dan pencegahan hama menggunakan insektida dan penyakit tanaman menggunakan fungisida yang diberikan secara berkala, yakni 2 minggu sekali (Kadir, 2008).

Perbanyakan Tanaman
Perbanyakan tanaman dapat dilakukan secara vegetatif melalui stek batang, stek daun, okulasi, dan pencangkokan, serta perbanyakan secara generatif melalui biji (Kadir, 2008).

Baca juga ini :

0 komentar:

Post a Comment

Subscribe via RSS Feed If you enjoyed this article just click here, or subscribe to receive more great content just like it.